Rumah Bubungan Tinggi

Bubungan Tinggi merupakan rumah adat khas Kalimantan Selatan dan menjadi rumah tradisional utama bagi Suku Banjar. Dahulu, rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal utama Sultan Banjar, sehingga setiap bagian dari bangunannya dirancang secara khusus dan sarat dengan makna filosofis.

Rumah ini dibangun menggunakan kayu ulin atau kayu besi, yaitu jenis kayu yang terkenal sangat kuat dan tahan lama. Bahkan bagian atapnya pun menggunakan kayu ulin karena sifatnya yang tahan terhadap air.

Secara tampilan, Rumah Bubungan Tinggi berbentuk rumah panggung. Lantai rumah ditopang oleh tiang-tiang utama sehingga tidak menempel langsung ke tanah, dengan ketinggian sekitar dua meter dari permukaan tanah. Inilah yang membuat rumah ini terlihat menjulang tinggi.

Keindahan rumah ini semakin ditonjolkan melalui berbagai ukiran dan ornamen khas. Tak hanya sebagai hiasan, setiap ukiran tersebut juga mengandung makna simbolis.

Secara filosofis, Rumah Bubungan Tinggi melambangkan pohon kehidupan, yang merepresentasikan keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Rumah Gajah Baliku

Rumah Gajah Baliku adalah salah satu rumah adat khas Kalimantan Selatan yang juga berasal dari budaya Suku Banjar. Rumah ini memiliki bentuk yang mirip dengan Rumah Bubungan Tinggi, namun ada perbedaan fungsi dan detail arsitekturnya.

Jika Rumah Bubungan Tinggi digunakan sebagai tempat tinggal utama Sultan Banjar, maka Rumah Gajah Baliku diperuntukkan bagi keluarga dekat, saudara, atau kerabat Sultan. Inilah yang membuat rumah ini termasuk golongan rumah bangsawan, meskipun tidak semewah istana Sultan.

Dari luar, bentuk kedua rumah ini terlihat hampir sama. Namun perbedaannya akan tampak ketika memasuki bagian dalam, terutama di ruang tamu.
Pada Rumah Bubungan Tinggi, ruang tamunya dibuat bertingkat, hal ini melambangkan kedudukan Sultan yang lebih tinggi saat menerima tamu.
Sementara pada Rumah Gajah Baliku, ruang tamunya dibuat rata, tanpa jenjang, sebagai penanda bahwa penghuninya memiliki status sosial lebih rendah dibanding Sultan, namun tetap terhormat sebagai bagian dari keluarga kerajaan.

Secara filosofi, Rumah Gajah Baliku mengandung makna yang serupa dengan rumah adat Banjar lainnya, yaitu menggambarkan keharmonisan, keseimbangan hidup, serta hubungan baik antara manusia, alam, dan Tuhan.

Ciri khas penting dari rumah adat Banjar, termasuk Gajah Baliku, adalah arah bangunannya selalu menghadap sungai. Ini mencerminkan kedekatan masyarakat Banjar dengan sungai, yang sejak dulu menjadi bagian penting dari kehidupan mereka baik sebagai jalur transportasi, sumber ekonomi, maupun ruang interaksi sosial.

Rumah Balai Bini

Rumah Balai Bini merupakan salah satu rumah adat tradisional dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan. Seperti namanya, rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal bagi putri Sultan atau anggota keluarga kerajaan dari pihak perempuan.

Dari segi arsitektur, bentuk bangunannya tidak terlalu berbeda dengan rumah adat Banjar lainnya. Rumah ini memiliki bentuk segi empat memanjang dengan atap model perisai. Penggunaan atap perisai bukan hanya estetika, tetapi juga memiliki makna simbolis, yaitu sebagai perlindungan bagi kaum wanita yang tinggal di dalamnya.

Pada bagian depan rumah terdapat satu pintu utama yang berada di tengah, diapit oleh dua jendela di sisi kanan dan kiri. Teras rumah juga dikelilingi oleh pagar randang besi, mirip dengan yang terdapat pada Rumah Bubungan Tinggi, memberikan kesan elegan sekaligus menjaga privasi.

Ciri khas lain dari rumah ini adalah adanya anjung (bangunan tambahan) di sisi kiri dan kanan rumah. Bagian atap anjung tersebut menggunakan bentuk khusus yang disebut pisang sasikat, karena bentuknya menyerupai sesisir pisang yang tertata rapi. Atap ini biasanya dibuat dari sengkuap, yang berfungsi sebagai pelindung tambahan dan memperindah tampilan rumah.

Rumah Balai Laki

Rumah Balai Laki merupakan salah satu jenis rumah adat dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Dahulu, rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal para mantri, penggawa, dan prajurit pengawal kesultanan, yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban.

Secara bentuk, rumah ini memiliki bangunan induk berbentuk segi empat memanjang, khas arsitektur Banjar. Pada bagian atap utama, digunakan model bubungan pelana kuda, yaitu atap yang berbentuk seperti pelana dengan dua sisi miring. Bahan atap yang digunakan adalah sirap, yakni potongan papan tipis dari kayu ulin, jenis kayu yang terkenal kuat dan tahan terhadap cuaca.

Seperti rumah adat Banjar lainnya, Rumah Balai Laki juga memiliki anjung di sisi kiri dan kanan rumah. Anjung ini berfungsi sebagai ruangan tambahan yang letaknya agak ke belakang. Atap anjung menggunakan bentuk sengkuap atau dikenal juga dengan sebutan pisang sasikat, karena bentuknya menyerupai sesisir pisang.

Keunikan rumah ini terletak pada bagian depannya yang hanya memiliki satu pintu utama untuk keluar masuk. Pintu tunggal ini bukan sekadar desain, melainkan memiliki makna filosofis: melambangkan jiwa kesatria dari para penghuninya, yaitu berani, cerdas, dan tidak lari dari tanggung jawab. Satu pintu menggambarkan bahwa seorang prajurit sejati tidak akan melarikan diri melalui pintu belakang ketika menghadapi bahaya.