


SEJARAH
KOTA BANJARMASIN
Sejarah Banjarmasin (1526–2005)
Masa Kesultanan Banjar (1526–1860)
Banjarmasih, kampung suku Melayu di muara Sungai Kuin, dipimpin oleh Patih Masih dari Sumatera. Tahun 1526, Raden Samudera yang melarikan diri dari Kerajaan Negara Daha, dibantu oleh kampung-kampung sekitar dan diangkat menjadi Pangeran Samudera. Ia memeluk Islam pada 24 September 1526 dan bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin.
Kesultanan Banjar berkembang di bawah Sultan Rahmatullah (1550–1570), Sultan Hidayatullah (1570–1620), dan Sultan Musta’inbillah (hingga 1612). Tahun 1596, Belanda mulai masuk dan terjadi konflik. Pada 1612, Belanda menyerang Banjar Lama di Kuin, menyebabkan ibukota dipindah ke Martapura.
Di Martapura, pemerintahan dilanjutkan oleh Sultan Tamjidillah I (1734–1759). Masjid Sultan Suriansyah direnovasi dan ditambahkan mimbar baru pada masa ini. Tahun 1825, Sultan Adam menetapkan UUSA 1825. Tahun 1857, Belanda menunjuk Sultan Tamjidillah menggantikan Sultan Adam, namun diasingkan tahun 1859 bersama Pangeran Hidayat. Tahun 1860, wilayah Kesultanan dijadikan bagian Hindia Belanda (Afdeeling Bandjermasin dan Oloe Soengai).
Banjarmasin Setelah 1612
Setelah serangan Belanda, pusat kerajaan dipindah ke Martapura. Aktivitas perdagangan tetap berlangsung di Banjarmasih. Rumah-rumah lanting dan rumah rakit banyak ditemukan di pinggir sungai. Pulau Tatas menjadi pusat kota baru, sedangkan Kuin (Banjar Lama) tetap menjadi wilayah Kesultanan hingga 1860. Nama Banjarmasih kemudian berubah menjadi Banjarmasin.
Masa Kolonial (1860–1905)
Belanda menghapus Kesultanan Banjar tahun 1860. Perlawanan rakyat dipimpin Sultan Muhammad Seman hingga gugur tahun 1905. Banyak bangsawan diasingkan, dibuang, atau mati. Pulau Tatas dengan Fort Tatas menjadi pusat pemerintahan kolonial.
Perkembangan Kota (1900–2005)
Awal abad 20: Muncul media berbahasa Melayu (Soeara Borneo, Sinar Borneo) dan berbagai organisasi sosial (Seri Budiman, Indra Buana).
1916: Berdiri Al-Madrasatul Arabiah dan Al-Waliah.
1918: Banjarmasin menjadi ibukota Residentie Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo.
1920-an: Muncul organisasi nasionalis (Sarekat Islam, Persatuan Putera Borneo).
1942: Jepang menguasai Banjarmasin, menerbitkan Borneo Shimbun.
1945–1957: Banjarmasin menjadi ibukota provinsi Kalimantan.
1961: Jumlah penduduk mencapai 214.000 jiwa.
1991: Museum Wasaka diresmikan.
1997: Kerusuhan “Jumat Membara”.
2005: H. Ahmad Yudhi Wahyuni Usman terpilih sebagai Wali Kota.
2009–2011: Indeks persepsi kenyamanan kota meningkat dari 52,61 ke 53,16.
Sejarah Banjarmasin menyimpan jejak panjang perjuangan dan kebesaran. Pada masa Kesultanan Banjar, wilayah ini bukan hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga berkembang sebagai pusat kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai adat, spiritualitas, dan tatanan kehidupan masyarakat. Kerajaan memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan sistem sosial yang masih terasa pengaruhnya hingga kini.
Ketika masa penjajahan tiba, muncul tokoh-tokoh pejuang Banjar yang dengan keberanian luar biasa bangkit membela tanah air. Perlawanan mereka tidak hanya mencerminkan semangat patriotisme, tetapi juga keteguhan hati dalam mempertahankan harga diri dan warisan budaya. Kisah-kisah perjuangan ini menjadi bagian penting dari sejarah yang membentuk karakter masyarakat Banjar yang kuat dan berjiwa merdeka.
Untuk mengenal lebih dalam tentang kemegahan Kesultanan Banjar dan tokoh-tokoh pahlawan yang telah mengukir sejarah, simak pembahasan selengkapnya.